Detail Cantuman
Advanced Search
Tesis
LARANGAN CATCALLING DALAM AL-QUR’AN (Pendekatan Integrasi Hermeneutika, Konstruksi Sosial Gender, dan Psikologi Sosial)
Fenomena catcalling merupakan bentuk pelecehan seksual verbal yang sering kali dianggap ringan, padahal memiliki dampak sosial dan psikologis yang serius bagi korban. Tindakan ini mencerminkan rendahnya kesadaran moral dalam tatanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis larangan catcalling dalam Al-Qur’an melalui pendekatan integratif yang memadukan hermeneutika, konstruksi sosial gender, dan psikologi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer dalam penelitian ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan dengan larangan catcalling, yaitu QS. Al-Ḥujurāt: 11, QS. An-Nūr: 30–31, dan QS. Al-Isrā’: 32. Pendekatan hermeneutika Fazlur Rahman digunakan untuk menafsirkan pesan moral Al-Qur’an melalui metode double movement, yang menghubungkan konteks historis turunnya ayat dengan realitas sosial masa kini. Pendekatan konstruksi sosial gender Berger dan Luckmann menjelaskan bagaimana perilaku catcalling terbentuk, dilembagakan, dan diinternalisasi dalam budaya patriarki. Sedangkan teori psikologi sosial Judith Herman digunakan untuk menguraikan dampak psikologis yang dialami korban pelecehan verbal di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan catcalling dalam Al-Qur’an mengandung nilai-nilai universal tentang kehormatan, kesopanan, dan tanggung jawab sosial. Melalui pendekatan hermeneutika Fazlur Rahman, larangan tersebut tidak hanya bersifat normatif tetapi juga kontekstual, menegaskan relevansi nilai-nilai kesopanan dan etika sosial di era modern. Dari sisi konstruksi sosial gender, catcalling dipahami sebagai produk konstruksi sosial yang dilestarikan oleh sistem patriarki dan konsep maskulinitas melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Sementara dari sisi psikologi sosial, catcalling terbukti menimbulkan luka psikis dan mengancam keseimbangan emosional korban, seperti kecemasan ekstrem (hyperarousal), ingatan traumatis (intrusion), dan penarikan diri emosional (numbing). Integrasi antara ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa catcalling berakar pada penyimpangan nilai agama serta dominasi patriarki dan konsep masulinitas, serta berdampak pada munculnya trauma psikis pada korban. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan adalah pencegahan berbasis nilai Qur’ani, perubahan budaya menuju kesetaraan gender, dan dukungan pemulihan bagi korban pelecehan. Kata Kunci: Catcalling, Hermeneutika, Konstruksi Sosial Gender, Psikologi Sosial
Ketersediaan
| 25SK397102520.1 | Skripsi Pasca IAT | Perpustakaan UIN Saizu Purwokerto (L.3 Ruang Skripsi) | Tersedia namun tidak untuk dipinjamkan - Tidak dipinjamkan |
Informasi Detil
| Judul Seri |
-
|
|---|---|
| No. Panggil |
Skripsi Pasca IAT
|
| Penerbit | UIN Saiz Pascasarjana - IAT : Purwokerto., 2025 |
| Deskripsi Fisik |
xviii, 154 hlm.; 29 cm. +lampiran
|
| Bahasa |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Klasifikasi |
NONE
|
| Tipe Isi |
-
|
| Tipe Media |
-
|
|---|---|
| Tipe Pembawa |
-
|
| Edisi |
-
|
| Subyek |
-
|
| Info Detil Spesifik |
-
|
| Pernyataan Tanggungjawab |
Ani Amalia
|
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain






