<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="102636">
 <titleInfo>
  <title>PANDANGAN TOKOH NAHDLATUL ULAMA DAN MUHAMMADIYAH BANYUMAS MENGENAI POLEMIK KEABSAHAN NASAB HABAIB DI INDONESIA SEBAGAI KETURUNAN NABI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhamad Sahal Mafaqqih</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Purwokerto</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS SYARIAH UIN SAIZU PRODI PM</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent>xx, 105 halaman;29 cm+lampiran</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini mengkaji polemik nasab habaib di Banyumas dengan menyoroti perbedaan pandangan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut memberikan perspektif mengenai keabsahan nasab habaib sebagai dzurriyatunnabi serta implikasinya terhadap otoritas keagamaan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui wawancara mendalam dengan tokoh NU dan Muhammadiyah di Banyumas serta analisis terhadap literatur dan dokumen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh NU cenderung menekankan pentingnya penghormatan terhadap habaib sebagai bagian dari tradisi keagamaan, dengan menekankan etika sosial, ukhuwah, dan adab dalam menyikapi polemik tersebut. Sebaliknya, tokoh Muhammadiyah lebih kritis terhadap klaim keabsahan nasab habaib, dengan menekankan prinsip kesetaraan, rasionalitas, dan amal saleh sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang. Perbedaan pandangan ini mencerminkan corak metodologis yang khas dari masing-masing organisasi: NU dengan pendekatan kulturalnya, dan Muhammadiyah dengan pendekatan rasional-tekstualnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa polemik nasab habaib tidak hanya terkait garis keturunan semata, melainkan juga menyangkut aspek historis, sosial, dan keagamaan. NU dan Muhammadiyah sama-sama menekankan pentingnya menjaga persatuan umat, meskipun dengan penekanan yang berbeda. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian keislaman kontemporer, khususnya dalam memahami dinamika otoritas keagamaan di Indonesia. Kata Kunci: Nasab Habaib, NU Banyumas, Muhammadiyah,Polemik.</note>
 <note type="statement of responsibility">Muhamad Sahal Mafaqqih</note>
 <classification>NONE</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>UPT PERPUSTAKAAN UIN SAIZU Jl. A. Yani 40A Purwokerto 53126</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">25SK5102636.1</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan UIN Saizu Purwokerto (Lt.3 Skripsi)</sublocation>
    <shelfLocator></shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>102636</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-11-10 08:57:34</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-11-10 08:58:24</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>